4 CARA MENYIASATI “JANGAN” & “TIDAK”

Terlalu banyak mengucapkan “jangan” atau “tidak” dapat menjadikan anak bersikap pasif. Siasati dengan 4 cara berikut!

1. TATA RUMAH SEAMAN & SENYAMAN MUNGKIN

* Singkirkan barang-barang hiasan, pecah belah, atau elektronik yang mungkin menjadi perhatian si batita. Ingat, anak usia ini mulai gemar menyentuh, mencoba memegang segala sesuatu yang menarik perhatiannya. Simpan barang-barang tersebut di tempat yang tidak terjangkau oleh si batita atau simpan di tempat yang terkunci.

* Tutup stop kontak, saklar dan hal-hal yang sekiranya membahayakan si batita. Jangan pula meletakkan dispenser pada tempat yang mudah terjangkau.

* Bila perlu sediakan satu ruangan khusus di mana si batita dapat bebas bergerak.

2. JELASKAN & BERI ALTERNATIF PENGGANTI

Bila ada barang elektronik yang terpaksa harus diletakkan dalam posisi yang mudah tersentuh si batita, cobalah amati. Saat si batita mulai tergoda untuk memainkannya, ambilah kesempatan tersebut untuk membe-rikan penjelasan. “Itu milik ayah, bukan untuk main. Minta izin ayah dulu ya.” Kemudian tawarkan benda pengganti kepadanya, “Ini bebekmu. Yuk main bebek-bebekan.” Tindakan ini dapat sekaligus dijadikan media untuk mengendalikan diri si batita.

Contoh lain, si batita kedapatan mencoret-coret dinding. Umumnya orangtua akan langsung menegur, “Adek, tidak boleh coret-coret tembok!” Justru yang sebaiknya kita lakukan adalah jelaskan padanya, “Adek, nanti temboknya jadi kotor kalau dicoret-coret.” Kemudian berikan alternatif penggantinya, “Nih, Bunda sudah sediakan kertas gambar untuk Adek. Yuk, kita menggambar di kertas ini.”

3. PENUHI RASA INGIN TAHU ANAK

Bila kebutuhan akan stimulasi dan bermain terpenuhi, anak dapat belajar cara bertindak atau bersikap dalam menghadapi sesuatu. Berikanlah stimulasi yang dapat membuka wawasan anak sehingga mampu memuaskan rasa ingin tahunya, sekaligus juga dapat mengurangi keinginannya untuk mengacak-acak. Demikian pula dengan kebutuhan bermain. Melalui kegiatan bermain, si batita akan belajar menunggu, sabar, dan bersosialisasi.

4. KATAKAN “TIDAK” ATAU “JANGAN” HANYA PADA SAAT YANG TEPAT

Kata “jangan” atau “tidak” memang mempunyai tempat tersendiri, terutama dalam hal yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan jiwa si batita. Namun, berikan penjelasan yang dapat dipahami dengan bahasa yang sederhana, bukan malah menakuti-nakuti. Saat si batita mendekati kompor yang tengah menyala, misal, segera katakan, “Eit, tidak! Ini panas. Berbahaya, Dek.”

Kemudian alihkan perhatiannya, “Yuk, kita main masak-masakan di luar.” Trik mengalihkan perhatian si batita ke permainan masak-masakan dapat menyalurkan keinginannya bereksplorasi. Permainan ini pun banyak mengembangkan kemampuan motorik halus atau tangannya. Setidaknya sebanding dengan keinginannya bermain kompor yang juga mengembangkan kemampuan motorik halus.

Setelah tenang, berikan penjelasan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh si batita. Misal, “Kalau main api, tanganmu bisa terbakar. Rasanya enggak enak, panas dan perih. Adek tahu, kan, rasa panas? Ayo kita berdiri di bawah sinar matahari. Nah, seperti ini yang namanya panas. Coba bayangkan, matahari yang jauh saja panasnya sudah kayak begini. Apalagi kalau dekat seperti api, panasnya pasti sangat terasa.”

AKIBAT KEBANYAKAN BILANG “JANGAN” & “TIDAK”

* Inisiatif si batita terpangkas, lambat laun ia tumbuh menjadi anak pasif.

* Kelak dapat menjadikan si batita tidak mandiri karena selalu bergantung pada orangtua. Demikian pula saat mengambil keputusan, selalu muncul perasaan takut.

* Kelak dapat menjadikan si batita kurang percaya diri.

* Si batita gampang histeris atau serbaketakutan sehingga akan menghambatnya dalam beraktivitas, menghambat perkembangan motorik halus dan kasarnya, serta membatasinya untuk belajar banyak hal.

Ditulis dalam Dunia Batita. 1 Comment »

Satu Tanggapan to “4 CARA MENYIASATI “JANGAN” & “TIDAK””

  1. Mochammad Says:

    Barangkali menanamkan berkata “jangan” dan “tidak” harus selalu ditanamkan kepada anak seiring dengan pertumbuhan kognisi dan perlilaku mereka ya, Mbak.
    Pada saat batita, misalnya, perlu ditanamkan untuk hal-hal yang membahayakan fisik seperti yang dipaparkan dalam tulisan di atas.
    Pada masa kanak-kanak juga perlu hal sama sesuai dengan perkembangan jiwa dan dunia luar yang sudah semakin banyak dikenalnya.
    Sampai kepada masa remaja, perlu ditanamkan kata “jangan” dan “tidak” itu untuk membentengi anak kita dari hal-hal yang tidak baik dalam dunia pergaulan mereka.

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: